Pendahuluan Tasawuf -3-

July 20th, 2005 by karkoonzaid

Keistimewaan Tasawuf
Tasawuf adalah ilmu yang paling mulia karena ia terkait erat dengan pengenalan Allah (ma’rifatullâh) dan kecintaan pada-Nya yang secara mutlak menempati tingkatan tertinggi dalam agama.

Posisi Tasawuf Diantara Ilmu-ilmu Yang Ada
Ilmu ini menjadi sumber prasyarat bagi ilmu-ilmu yang lain. Karena ilmu dan amal tidak akan ada nilainya kecuali dengan tujuan mencari ridha Allah Swt. Posisi tasawuf di antara ilmu-ilmu yang lain persis seperti posisi ruh dengan jasad.

Penancap Tonggak Tasawuf
Allah-lah yang pertama kali menancapkan tonggak ilmu ini dan mewahyukannya pada rasul-Nya juga para nabi sebelumnya. Diyakini demikian, karena tasawuf merupakan ruh semangat syariat dan agama-agama langit. Perlu diketahui bahwa para nabi itu mempunyai tiga kata yang biasa dipakai, yang bagi sebagian orang yang kurang mendalam pengetahuannya menjadi rancu dan bias. Berikut kami akan jelaskan dengan jelas mengenai penjelasan tiga kata itu sehingga Anda tidak terjerumus seperti orang-orang itu. Tiga kata itu adalah syariat, tarikat, dan hakikat.

Syariat adalah kumpulan hukum-hukum Allah Swt. yang diturunkan pada Nabi Muhammad Saw. yang berhasil dipahami oleh para ulama dengan menggalinya dari Al-Quran dan As-Sunah baik secara teks maupun hasil penggalian hukum. Yang saya maksudkan dengan sekumpulan hukum di sini adalah kumpulan hukum yang dijelaskan dalam ilmu tauhid, ilmu fiqih, dan ilmu tasawuf.

Tarikat adalah pengamalan syariat, melaksanakan hal - hal yang ditetapkan dalam syariat, dan menjauhi sikap menganggap remeh sesuatu yang seharusnya tidak dianggap remeh. Anda juga boleh berpendapat bahwa tarikat adalah menjauhi hal-hal yang dilarang baik zahir maupun batin dan mematuhi segala yang diperintahkan Allah Swt. sesuai kemampuan. Atau Anda bisa saja mendefinisikannya sebagai sikap menjauhi hal-hal yang diharamkan, menjauhi hal-hal yang makruh, berhati-hati terhadap kelebihan hal-hal yang mubah, dan melakukan hal-hal yang sunah di bawah pengawasan seorang guru yang telah mencapai puncak kemakrifatan.”

Hakikat sendiri terbagi ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama, halusnya tabir antara yang bersangkutan dengan apa yang diimaninya mulai dan sifat Allah, keagungan-Nya, keindahan-Nya, kedekatan-Nya, “persetubuhan” dengan-Nya, hakikat kenabian, kesempurnaan para nabi yang mendapatkan risalah kenabian itu terutama Nabi Muhammad Saw., juga semua yang telah diberitakan Nabi Saw. tentang kenikmatan dan siksa kubur, kegentingan kiamat, segala tentang neraka dan segala bentuk kenikmatan surga, dan lain sebagainya.

Seseorang yang berada pada tingkatan ini, semua yang diimaninya itu tampak nyata seakan ada di hadapan mata. Setelah itu, hal ini diikuti dengan beberapa kondisi yang tiba-tiba muncul di depan matanya, seperti sikap zuhud dunia dan segala keglamorannya, lupa dunia, mabuk akan akhirat, sikap kagum pada akhirat, begitu rindu dan cinta yang membara pada akhirat, dan masih banyak lagi yang nanti akan dijelaskan secara teperinci pada bab khusus mengenai masalah ini. Bersamaan dengan itu, akan tersingkap pula di hadapannya segala yang dikehendaki Allah Swt. seperti misteri tentang alam atas, alam bawah, kejadian-kejadian yang telah lampau, dan kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa mendatang.

Salah satu bentuk aplikasi bagian hakikat yang ini adalah hadis yang bersumber dan Hâritsah bin Mâlik ketika Nabi Muhammad Saw. bertanya padanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini, Hâritsah?” Dia menjawab, “Pagi ini menjadi seorang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” Nabi lalu berkata, “Setiap ucapan pasti mempunyai hakikat. Lalu gerangan apakah hakikat keimananmu itu?” Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi lalu berkata pada Hâritsah, “Ketahui apa yang telah kamu katakan atau perhatikan apa yang telah kamu katakan?” Mendengar sabda Nabi itu, Hâritsah lalu berkata, “Jiwa saya telah berpaling dari dunia. Emas dan batu dunia sama saja bagi saya. Karenanya, ketika malam saya tidak tidur dan ketika siang saya biarkan diri ini kehausan. Pada saat itulah saya sekan-akan telah melihat Arsy Allah ada di depan mata atau seolah-olah saya sedang melihat penghuni surga sedang saling mengunjungi satu sama lain. Saya juga seolah-olah sedang mendengar jeritan para penghuni neraka.” Lalu Nabi lebih lanjut berkata pada Hâritsah, “Jadi kamu memang sudah tahu apa yang kamu katakan. Jika begitu, jangan pernah berpaling dan apa yang sudah kamu ketahui.” Pada suatu riwayat, Nabi Muhammad Saw. bersabda tentang Hâritsah, “Siapa saja yang senang melihat orang yang mendapat cahayaAllah Swt., maka lihatlah Hâritsah bin Mâlik,” (HR At-Thabarânî, Al-Bazzâr, dan perawi lainnya).

Inilah tingkatan hakikat yang tertinggi. Dari tingkatan ini muncullah dua tingkatan yang lain dan menjadi dasar yang melahirkan dua tingkatan lainnya. Tingkatan yang kedua adalah mengosongkan jiwa dan tatabudi yang hina dan menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji serta akhlak-akhlak mulia yang telah begitu menancap dan tertanam dengan kuat di dalam jiwa.

Tingkatan ketiga, mudah melakukan amal-amal saleh dan ringan melakukan perilaku-perilaku yang baik hingga tidak ada lagi rasa merasa terpaksa dan merasa kesulitan untuk melakukan itu semua. Bahkan ketika ia berkeinginan meninggalkan amal-amal baik itu, jiwanya memberontak dan tidak mau memenuhinya. Dadanya pun menjadi sangat terbuka untuk menerima Islam sepenuhnya. Jiwanya begitu tenang untuk jauh dan segala sesuatu yang diharamkan Allah Swt. dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya. Dengan begitu, upayanya untuk merendahkan diri di hadapan Allah telah diakui kebenarannya sampai seolah-olah ia adalah malaikat yang berwujud manusia.

Jika tiga tingkatan ini dapat Anda pahami dengan baik, maka Anda akan tahu bahwa kebanyakan definisi yang disebutkan mengenai hakikat adalah penjelasan mengenai salah satu bagian atau satu jenisnya saja. Di samping bahwa hakikat merupakan buah hasil dan tarikat.

Bagi seorang yang meniti jalan menuju akhirat mutlak diperlukan menggabungkan tiga hal ini dan tidak melewatkan satu pun di antaranya. ini disebahkan karena hakikat tanpa syariat adalah suatu kebatilan dan syariat tanpa hakikat adalah sesuatu yang sia-sia belaka. Imam Mâlik r.a. berkata, “Orang yang melaksanakan syariat tanpa menjalankan hakikat, maka ia telah berlaku fasik. Orang yang berhakikat tanpa bersyariat, maka ia telah zindik. Sedang orang yang menggabungkan keduanya, maka ia telah menemukan kebenaran.”

Syariat itu seperti perahu karena ia menjadi sarana yang bisa mengantarkan seseorang sampai pada tujuan dan selamat dan kehancuran. Tarikat itu seperti lautan yang di dalamnya terdapat mutiara karena ia menjadi tempat tujuan. Hakikat itu seperti mutiara yang besar karena mutiara hanya ditemukan di lautan. Lautan itu pun hanya bisa digapai dengan bantuan perahu. Orang yang telah melihat hakikat segala sesuatu dengan bantuan Allah Swt., maka ia akan menemukan bahwa syariat dan hakikat saling berkaitan, seperti air dan kayu, juga ruh dengan jasad. Syariat adalah pohon, tarikat adalah dahan pohon itu, dan hakikat adalah buahnya.

Nama Disiplin Hidup Ini
Ilmu ini bernama tasawuf. Kata tasawuf berasal dan kata al-shâfa’ (bening). Seorang sufi adalah orang yang jemih hatinya dan segala kotoran dan dipenuhi dengan pelajaran-pelajaran. Baginya, sama saja antara emas dan lumpur. Sebagain orang yang telah mencapai tahap makrifat bersenandung dalam bait syair berikut ini:

Wahai Zat yang memanggilku, pada kenyataannya Engkau-lah yang aku panggil
Wahai Zat yang mengenaliku, jangan salahkan aku karena engaku telah aku kenali
Pemuda adalah orang yang telah memenuhi janjinya pada zaman azali dan bersih hati
Oleh karena itulah, seorang yang bersih hatinya disebut sebagai sufi

Prinsip dasar tasawuf ada lima. Pertama, takwa kepada Allah Swt, baik di saat sembunyi maupun di kala terbuka di depan umum. ini bisa terwujud dengan kewaraan dan keistiqamahan. Kedua, mengikuti sunah Nabi baik dalam perkataan dan perbuatan. ini bisa terwujud dengan menjaga dan selalu berusaha memperbaiki akhlak diri. Ketiga, berpaling dari makhluk baik ketika disukai maupun ketika tidak disukai, ini bisa terwujud dengan cara bersabar dan bertawakal. Keempat, ridha dengan apa yang telah diberikan Allah Swt. baik banyak maupun sedikit. ini bisa terwujud dengan sikap qanaah dan menyerahkan sepenuhnya segala sesuatu pada Allah Swt. Kelima, kembali kepada Allah Swt. dalam keadaan lapang maupun keadaan sempit. Ini bisa terwujud dengan bersikap syukur pada saat lapang dan berlindung pada-Nya pada saat dalam keadaan sempit.

Dasar Pijakan Tasawuf
Dasar pijakan tasawuf berasal dan Al-Quran, As-Sunah, dan perkataan-perkataan yang disampaikan oleh manusia-manusia terpilih.

Hukum Mempelajari Tasawuf
Hukum mempelajari tasawuf adalah mutlak wajib. Karena tidak ada seorang pun yang terbebas dan aib atau penyakit hati kecuali para nabi. Sebagian orang yang telah menggapai tahap makrifat mengatakan, “Orang yang tidak mengetahui sedikit pun ilmu ini (tasawuf), maka aku khawatir ia akan mati dalam keadaan sû‘u al-khâtimah. Kalaupun ia tidak mengetahui banyak tentang ilmu ini, paling tidak ia membenarkan ilmu ini dan mengakui keberadaan orang-orang yang menekuninya.”

Permasalahan Yang Dikaji Ilmu Tasawuf
Beberapa permasalahan yang menjadi pokok kajian ilmu ini adalah beberapa permasalahan yang membahas tentang sifat-sifat hati dan segala yang terkait dengan itu. Seperti penjelasan beberapa kalimat yang banyak dikaji di tengahtengah komunitas sufi semisal zuhud, wara, cinta (mahabbah), fana, dan baqa.

Pendahuluan Tasawuf -2-

July 20th, 2005 by karkoonzaid

Efek lainnya adalah kemaksiatan menyebabkan urusan menjadi sulit. Orang yang melakukan kemksiatan setiap kali menghadapi suatu masalah pasti ia mendapati kesulitan, kerumitan, dan tidak menemukan jalan keluar. Berikutnya, efek lain berupa kegelapan yang bercokol di hatinya seperti kegelapan malam yang gulita. Setiap kali kegelapan itu menguat, maka bertambah pula kebingungannya. Kegelapan yang meliputi dirinya pun tampak di wajahnya. Kegelapan ini akan terlihat jelas oleh orang-orang yang mempunyai mata hatin yang mendalam.

Selain itu, kemaksiatan yang dilakukannya akan menghinakan hati berikut fisiknya, terhalangnya ketaatan, terhapusnya keberkahan umur, dan mewariskan kehinaan. Kemaksiatan juga merusak fungsi akal karena akal adalah cahaya sedangkan keniaksiatan itu menjadi pemadam cahaya itu. Selanjutnya, efek lainnya adalah kemaksiatan itu dapat menghilangkan kenikmatan dan menyebabkan kefakiran. Setiap kenikmatan yang hilang dan seorang hamba tidak lain pastilah disebabkan oleh suatu dosa yang dilakukannya. Begitu juga musibah yang menerpa dirinya juga disebabkan oleh perilaku dosanya. Seperti tersebut dalam Al-Quran, “Dan apa pun musibah yang menimpa kalian maka adalah disebabkan oleh perbuatan tangan kalian sendiri, dan Allah Swt. memaafkan sebagian besar (dari kesalahan-kesalahan kalian),” (QS Al-Syûrâ [42]: 30).

Di sini perlu pula diketahui bahwa tasawuf –yang oleh sebagian orang disebut sebagai ilmu tentang hati (‘ilm al-bâthin)– merupakan ilmu yang paling mulia tingkatannya, paling mengagumkan keunggulannya, paling luhur mentari dan rembulannya. Allah Swt. telah melebihkan orang yang menekuni ketasawufan dan hamba-hambaNya yang lain, setelah para nabi dan rasul. Allah Swt. juga telah menjadikan hati orang-orang yang menekuni ketasawufan (sufi) sebagai tempat bersumbernya hikmah.

Dia mengkhususkan pula manusia-manusia mulia ini di antara umat kebanyakan dengan penampakan-penampakan cahaya yang terlihat dan mereka. Mereka inilah yang selalu menolong makhluk Allah Swt. yang sedang membutuhkan. Pada kondisi apa pun yang dihadapinya, mereka selalu berinteraksi bersama Allah Swt.

Al-Thaibî pernah mengatakan, “Tidak semestinya bagi seorang yang berilmu, merasa puas dengan ilmu yang dikuasainya, meskipun ia telah mendalam ilmunya sampai ia menjadi orang yang terpandai pada masanya. Karena setelah menguasai ilmu itu, yang harus dilakukannya adalah berkumpul dan berinteraksi bersama para sufi untuk mendapatkan petunjuk jalan yang lurus hingga ia bisa menjadi salah seorang yang diajak bicara oleh Allah Swt. di dalam sanubari terdalamnya lantaran begitu bening hatinya. Ia pun menjadi terbebas dan kotoran-kotoran yang mengganggunya. Ia lalu meninggalkan segala hal yang mengganggu ilmunya seperti keruhnya hawa nafsu dan dorongan nafsu jahatnya.”

Lebih lanjut, Al-Thaibî mengatakan, “Setelah itu, ia pun menjadi siap menerima berlimpah-limpah ilmu-ilmu laduni di hatinya dan tertular memperoleh pijar cahaya kenabian. Ini tentu saja pada umumnya tidak mudah kecuali dengan bimbingan seorang guru sufi yang telah sempuma ilmunya dan mengetahui dengan persis cara mengobati serta menyucikan penyakit-penyakit nafsu dan kotoran-kotoran non fisik. Juga guru sufi yang telah menonjol ketinggian hikmah interaksi baik ilmunya maupun indra perasanya. Diharapkan dengan bantuan guru sufi ini, ia bisa berhasil keluar dan kepekatan nafsunya yang selalu mendorong kepada kejahatan dan godaan-godaannya yang tersembunyi.”

Masih menurut Al-Thaibî, “Semua sufi bersepakat tentang kewajiban mencari guru yang membimbing perjalanan seseorang untuk menyingkirkan sifat-sifat buruk yang telah menghalanginya masuk ke hadirat Allah Swt. dengan hatinya agar kehadiran dan kekhusuannya itu menjadi benar-benar dapat dipertanggungjawabkan dalam semua ibadah yang dilakukannya. ini merupakan bagian dan kaidah ushul fiqih “mâ lâ yatimm al-wâjib illâ bihifahuwa wâjib (sesuatu yang tanpanya sesuatu yang wajib menjadi tidak sempurna, maka sesuatu itu menjadi wajib pula).” Pengobatan penyakit-penyakit hati merupakan suatu kewajiban. Karenanya, menjadi wajib bagi seseorang yang telah dikuasai oleh penyakit-penyakit nafsu itu untuk mencari seorang guru yang mampu mengeluarkannya dan setiap kerusakan. Jika ia tidak berhasil menemukan guru dimaksud di daerah maupun di wilayah sekitar ia tinggal, maka ia wajib untuk pergi mencari sampai ia menemukan guru dimaksud.”

Suatu saat Imam Ahmad bin Hambal r.a. berkata pada anaknya yang bernama Abdullâh, “Anakku, kaji terus hadis dan berhati-hatilah jangan sampai kamu terjerumus bergaul dengan orang-orang yang menamakan diri mereka sebagai kalangan sufi. Karena terkadang salah seorang di antara mereka tidak mengetahui banyak tentang hukum-hukum agama.” Pada saat beliau berkesempatan bergaul dengan Abü Hamzah Al-Baghdâdî dan mengetahui banyak hal tentang tasawuf dan para sufi, beliau pun justru berbalik berkata pada anaknya, ‘Anakku, jangan pernah meninggalkan majelis kaum sufi karena mereka telah melampaui kita dalam ilmu, murâqabah (pengawasan diri), rasa takut pada Allah Swt., kezuhudan, dan luhur cita-cita.”

Imam Al-Syafi’î r.a. juga bergaul dan berinteraksi dengan komunitas sufi. Beliau suatu waktu pernah berkata, “Seorang ahli fiqih perlu mengetahui terminologi yang biasa dipakai di kalangan sufi agar ía bisa memperoleh ilmu yang sebelumnya tidak diketahuinya.”

Imam Al-Syafi’î dan Imam Ahmad juga dikenal keluar masuk majelis komunitas sufi dan menghadiri majelis zikir yang diadakan komunitas sufi. Suatu saat ada yang bertanya pada keduanya, “Mengapa Anda mesti keluar masuk ke sarang orang-orang bodoh itu?” Mendapat pertanyaan yang kurang mengenakkan ini, keduanya menjawab, “Mereka itu telah mempunyai modal dasar, yaitu ketakwaan kepadaAllah Swt., kecintaan pada-Nya, dan telah mengenal-Nya.” Salah seorang sufi pernah mengatakan, “Siapa pun yang mempercayai apa yang dikatakan para sufi, maka katakan padanya, ‘Doakan aku,’ karena doanya pasti terkabul.”

Setiap orang yang berencana mendalami suatu disiplin ilmu tertentu, hendaknya ia terlebih dulu memetakan disiplin ilmu itu sebelum ia lebih jauh mendalaminya, agar ia bisa mengerti secara mendalam dengan bantuan mata batinnya tentang disiplin ilmu yang hendak dikajinya itu. Gambaran tentang ilmu itu tidak akan diperolehnya kecuali dengan mengetahui sepuluh prinsip dasar yang tercantum dalam bait syair berikut:

Prinsip setiap disiplin ilmu itu ada sepuluh
Ada definisi, tema, dan output yang dihasilkan
Juga terdapat keistimewaan, posisinya jelas, dan siapa yang mengajarkannya pertama kali
Ilmu itu ada namanya, dasar pijakan, dan ketetapan hukum mempelajarinya
Juga terkandung beberapa permasalahan yang satu sama lain selalu terkait
Siapa pun yang telah mengetahui sepuluh hal ini, maka ia akan mendapatkan kemuliaan

Definisi Tasawuf
Tasawuf adalah ilmu yang bermanfaat untuk mengetahui kondisi nafsu yang terpuji dan yang tercela, juga mengetahui bagaimana cara membersihkan ketercelaan nafsu, cara menghiasinya dengan nafsu yang terpuji, cara meniti dan berjalan serta berlari menuju Allah Swt. Berikut sebuah syair yang menjelaskan hal ini:

Ilmu tasawuf adalah suatu disiplin ilmu yang tidak bisa digapai
Kecuali oleh orang yang pandai dan mengetahui kebenaran
Bagaimana mungkinn ilmu ini bisa diketahui oleh orang yang tidak mampu menyaksikan keindahannya
Karena bagaimana mungkin orang yang buta bisa melihat indahnya mentari?

Tema Pembahasan Tasawuf
Tema yang hendak dibahas dalam tasawuf adalah tentang perilaku-perilaku hati dan indera ditinjau dan segi penyucian dan pembersihannya.

Output Yang Dihasilkan Tasawuf
Hasil yang diharapkan dicapai dalam tasawuf adalah kesucian hati, mengenali Allah Swt. secara non indrawi dan rasa, selamat di akhirat, merasa bahagia dengan ridha Allah Swt., memperoleh kebahagiaan yang abadi, dan mendapat cahaya hati. Selain itu, dengan tasawuf juga akan diperoleh kejernihan kalbu yang ditandai dengan tersingkapnya beberapa masalah dengan jelas serta dapat menyaksikan hal-hal yang di luar jangkuan akal. Ia juga dapat melihat sesuatu yang tidak dapat dilihat oleh indra orang lain.

Pendahuluan Tasawuf -1-

July 20th, 2005 by karkoonzaid

Sosok yang menginginkan tanaman dan berjalan di jalan akhirat selalu terdiri dan enam orang berikut ini: (1) ia orang yang ahli ibadah (‘âbid); (2) orang yang berilmu (‘âlim); (3) orang yang sedang belajar (muta’alim); (4) seorang penguasa (wâli); (5) seorang yang profesional dalam pekerjaannya (muhtarif); dan (6) seorang yang bertauhid yang tenggelam dalam cinta Allah Swt. (muwahhid mustaghriq).

Seorang ‘âbid adalah orang yang menghabiskan waktunya hanya untuk beribadah. Ia tidak mempunyai kesibukan lainnya selain beribadah. Tanpa kesibukan ibadah, ia akan menjadi pengangguran. Karenanya, ia harus menghabiskan seluruh waktunya untuk beribadah dan majelis-majelis zikir. Dalam hal ini Nabi Muhammad Saw. pernah mengatakan, Pada saat kalian melewati taman-taman di surga, maka makanlah jerami yang ada di sekitar kalian.” Lalu ada yang bertanya pada beliau, “Apa yang Anda maksudkan dengan taman-taman di surga?” Nabi Saw menjawab, “Majelis-majelis zikir,” (HR At-Tirmidzi).

Orang yang berilmu (‘âlim) adalah orang yang ilmunya dapat dimanfaatkan oleh banyak orang, baik yang berupa fatwa, pengajaran yang disampaikannya, maupun karya yang dituliskannya. Bila ia dapat mencurahkan segenap waktunya untuk melakukan itu semua, maka itu akan menjadi kesibukan yang paling utama baginya setelah lima salat wajib dan salat rawatib. Tentu saja harus ditegaskan bila ilmu yang diajarkannya itu diniatkan untuk menjadi sarana meniti jalan menuju Allah Swt.

Yang dimaksud ilmu yang bisa mengajak seseorang untuk beribadah adalah ilmu yang bisa membuat yang bersangkutan menyukai akhirat, menjadi zuhud dunia, atau membantunya meniti jalan akhirat. Karenanya, di sini tidak berlaku ilmu-ilmu yang menyebabkan seseorang justru menjadi gandrung harta, jabatan, dan mengejar popularitas.

Orang yang sedang belajar (muta’alim) adalah orang yang meniatkan belajarnya untuk ridha Allah Swt. Karenanya, kesibukan belajarnya justru lebih utama daripada kesibukannya berzikir dan ibadah-ibadah sunah. Setiap harinya, ia harus punya kesibukan wirid atau zikir karena itu akan lebih memudahkannya menggapai semua yang dicita-citakannya. Tapi, bila ia adalah orang yang awam, kehadirannya pada sebuah acara nasihat dan tempat belajar lebih utama daripada kesibukan wirid dan zikirnya.

Ka’ab bin Al-Ahâbâr r.a. mengatakan, “Bila pahala menghadiri majelis ilmu itu tampak pada manusia, tentu mereka akan berperang untuk memperebutkannya, hingga mereka yang mempunyai kekuasaan meninggalkan kekuasaannya dan yang mempunyai bisnis meninggalkan bisnisnya.” ‘Umar bin Al-Khaththâb r.a. juga mengatakan, “Ada seseorang yang keluar rumah dengan membawa dosa bertumpuk sebesar gunung Tihamah, Ketika ia mendengar seorang yang berilmu menyampaikan ilmunya, dalam hatinya timbul perasaaan takut akan dosanya. Setelah itu, ia mengatakan istirjâ’ (ucapan innâ lillâhi wa inna ilaihi râji’ûn) dan berniat ingin lepas dan dosa-dosanya, maka ia akan pulang kembali ke rumahnya tanpa ada sedikit pun dosa padanya. Karenanya, jangan pernah meninggalkan majelis ilmu lantaran Allah Swt. tidak menciptakan satu tanah pun di muka bumi ini yang lebih mulia melebihi tanah yang dipakai untuk majelis ilmu.” ‘Athâ’ bin Rabâh lalu berkata, “Menghadiri satu majelis ilmu dapat melebur dosa menghadiri tujuh puluh tempat hura-hura dan hiburan.”

Dengan kata lain, setiap lilitan rasa cinta dunia yang terlepas dan hati yang disebabkan ucapan seorang yang menyampaikan nasihat dengan kata-kata yang bagus dan teladan perilaku yang menawan, maka tentu itu akan lebih mulia dan lebih bermanfaat daripada rakaat-rakaat yang kita lakukan dengan disertai kecenderungan hati untuk menyukai dunia.

Seorang pekerja profesional (muhtarif) adalah orang yang bekerja untuk mencukupi kebutuhan keluarganya. Ia tidak menghahiskan waktunya untuk hanya berzikir lalu menelantarkan keluarganya. Wirid yang dilakukannya pada saat menjalankan profesinya adalah dengan cara mendatangi tempat usaha dan mengerjakan dengan serius profesinya. Namun demikian, ia tetap tidak boleh lupa mengingat Allah Swt. di dalam hatinya pada saat menjalankan profesinya. Bahkan seharusnya ia tidak henti-hentinya melafalkan tasbih, zikir, dan membaca Al-Quran. Semua ibadah ini masih mungkin dilakukannya di sela-sela bekerja dan itu tidak mengganggu pekerjaan yang sedang dilakukannya. Setelah ia merasa cukup dengan penghasilan yang didapatnya, ia diharapkan dapat kembali beribadah.

Yang dimaksud penguasa (wâli) disini adalah seperti presiden, hakim agung, dan semua orang yang memegang jabatan publik yang turut menentukan arah kebijakan yang langsung akan dirasakan umat Islam. Semua yang mereka lakukan untuk memenuhi kebutuhan kaum Muslimin dan segala yang menjadi tujuannya yang sesuai syariat dan diniatkan dengan ikhlas, tentu akan lebih utama daripada kegiatannya menyibukkan diri dengan kegiatan wirid. Karenanya, kewajiban yang harus dilakukannya di siang hari adalah mengurusi apa yang menjadi urusan publik dan hanya melakukan salat wajib beserta salat rawatib. Lalu di malam harinya, baru ia mengerjakan kesibukan wiridnya.

Sedang orang yang bertauhid (muwahhid mustaghriq) adalah orang yang menenggelamkan dirinya bersama Tuhannya. Ketika pagi menjelang, semua perhatiannya hanya tercurah pada Allah Swt. Ia hanya menginginkan Allah Swt, dan hanya takut pada-Nya. Ia tidak pernah berharap mendapat rezeki dan yang selain-Nya. Seseorang yang telah mencapai tingkat inii, maka ia tidak memerlukan lagi berbagai macam bentuk wirid.

Setelah melaksanakan salat-salat wajib berikut rawatibnya, wiridnya hanya satu, yaitu memfokuskan hati bersama Allah Swt. dalam kondisi apa pun. Karenanya, tidak ada lagi sesuatu yang membuat hatinya khawatir. Tidak ada lagi sesuatu yang mengganggu pendengarannya. Tidak ada sesuatu yang tampak pada pancaindranya kecuali sesuatu itu menjadi pelajaran, pemikiran, dan tambahan ibadahnya. Semua kondisi yang dialaminya ini bisa dinilai benar, bila menjadi sebab untuk mencapai ridha Allah Swt. Inilah puncak pencapaian tingkat orang-orang yang selalu berlaku benar (shiddiqn). Ini semua tidak akan dapat dicapai kecuali setelah menekuni dan menjalani rutinitas wirid.

Oleh karena itu, tidak seharusnya seorang yang baru memulai meniti jalan ruhani terperangkap dengan membuat pengakuan bahwa dirinya telah mencapai tingkat ini lalu ia malas melakukan ibadah. Di antara tanda seseorang telah mencapai tingkat ini adalah tidak ada lagi sesuatu yang memperdaya hatinya, tidak tergerak sedikit pun kemaksiatan di dalam hatinya, dan tidak ada dorongan jahat pun yang datang tiba-tiba menyerangnya.

Amal saleh itu selalu mempunyai manfaat yang besar untuk memperbaiki dan menerangi hati. Namun itu tidak akan tampak hasilnya kecuali dengan selalu melanggengkan amal saleh itu. Seseorang yang terbiasa melakukan suatu amal saleh lalu ia meninggalkannya, maka ia adalah orang yang dimurkai. Para ulama berkata, “Seseorang yang membiasakan beribadah kepada Allah Swt. lalu ia meninggalkannya karena bosan, maka Allah Swt. akan murka padanya.” Nabi Muhammad Saw. bersabda, “Amal yang paling disukai oleh Allah Swt. adaiah amal yang paling langgeng dikerjakan meskpun amal itu remeh,” (HR Al-Bukhârî dan Muslim).

Karenanya, ikatlah selalu tangan Anda untuk selalu menjaga amal-amal kebaikan. Seseorang yang selalu menjaga amal-amalnya, maka ia akan menemukan nikmatnya keimanan dan hatinya bergumul dengan keimanan dengan sebenar-benarnya.

Ketika seorang hamba telah sampai pada tingkatan ini, maka akan hilang keraguan dan ketidakjelasan darinya. Ibadah menjadi kenikmatan yang tak terkira baginya. Ini terlihat ketika ia lebih memilih menyibukkan diri untuk beribadah daripada mengejar urusan-urusan duniawi. Pada saat itulah keimanan masuk ke dalam hatinya seperti rasa suka yang luar biasa pada air yang sangat dingin di kala hari begitu panas bagi mereka yang sedang sangat kehausan.

Setelah itu, terhapus darinya rasa lelah menjalani ketaatan karena telah merasa nikmat dengan ketaatan itu. Bahkan ketaatan itu telah menjadi nutrisi bagi hatinya, menjadi kebahagiaannya, penyejuk matanya, dan kenikmatan ruhnya. Ia merasa kenikmatan yang dirasakannya dengan ketaatan itu jauh Iebih besar daripada kenikmatan-kenikmatan fisik lainnya.

Bahaya perilaku dosa di dalam hati persis seperti bahaya racun yang bercokol di tubuh, meskipun tingkat bahayanya masih jauh lebih tinggi bahaya dosa. Di dunia dan di akhirat nanti tidak ada keburukan dan penyakit yang dirasakan seseorang kecuali dosa dan maksiatlah yang menjadi penyebabnya. Efek negatif perilaku maksiat yang membahayakan hati dan fisik baik di dunia maupun di akhirat tidak ada yang mengetahuinya kecuali Allah Swt.

Salah satu efek negatif itu adalah terhalang memperoleh ilmu yang bermanfaat. ini disebabkan karena ilmu itu adalah cahaya yang dianugerahkan Allah Swt. di dalam hati seorang hamba, sedangkan kemaksiatan memadamkan cahaya itu. Itu pun jika cahaya memang ada di hatinya. Bila cahaya itu tidak ada di dalam hatinya, maka kemaksiatan itu akan menghalangi hatinya untuk mendapat cahaya.

Dzunun Al-Misri, Junaid Al-Bagdadi, Dan Tasawuf

July 20th, 2005 by karkoonzaid

Tasawuf berpangkal pada pribadi Nabi Muhammad SAW. gaya hidup sederhana, tetapi penuh kesungguhan. Akhlak Rasul tidak dapat dipisahkan serta diceraikan dari kemurnian cahaya Alquran.
Akhlak Rasul itulah titik tolak dan garis perhentian cita-cita tasawuf dalam Islam itu.

Dhunnun al-Misri, seorang sufi yang terkemuka, mengatakan bahwa yang dimaksud dengan tasawuf ialah pembebasan dari ragu dan putus asa, kemudian tegak berdiri beserta yakin iman. Pengertian yang simpang siur tentang urat bahasa sufi dan tasawuf menimbulkan pengiraan bahwa tasawuf Islam mencakup pula bahan-bahan sufi Yunani dan mistik, serta Hindu Farsi. Pandangan tersebut merupakan pengiraan yang keliru dan mengelirukan. Terlepas dari adanya pengakuan jujur tentang adanya persamaan yang tampak lahirnya, ataupun mengenal istilah-istilah dan cara-cara melatih jiwa. Di dalam tasawuf Islam ditemukan ciri-ciri yang istimewa; yaitu pengembalian dengan cara mutlak segala persoalan agama dan kehidupan kepada Alquran dan Sunnah.

Al-Junaid, penghulu sufi Islam, di dalam redaksi yang bermacam-macam menegaskan bahwa yang
mungkin menjadi ahli tasawuf itu hanyalah barang siapa yang mengetahui keseluruhan Alquran dan
Sunnah Rasulullah SAW. Karena itu yang sebenarnya tasawuf adalah kefanaan diri ke dalam kemurnian Alquran dan Sunnah.

Keabadian Cinta

July 20th, 2005 by karkoonzaid

Allahu… Allah
Allahu… Allah
Allahu… Allah
Tiada kemanisan selain menyebut asmaMU

Allahu… Allah
Allahu… Allah
Allahu… Allah
Tiada kecantikan selain nur wajahMU

Allahu… Allah
Allahu… Allah
Allahu… Allah
Tiada keabadian selain bersamaMU

Allahu… Allah
Allahu… Allah
Allahu… Allah
Tiada keadilan selain qoda & qodarMU

Allahu… Allah
Allahu… Allah
Allahu… Allah
Aku telah hilang dalam bingkai kefanaan
Aku telah lenyap dari kewujudan
Aku telah tiada dalam keduniawian
Aku telah bersemayam dalam samudra kecintaan

Ya Allah, Aku Jatuh Cinta….

July 8th, 2005 by karkoonzaid

Ya Allah…
Aku telah jatuh cinta pada keagungan qadaMU
pada kemanisan qadarMU
pada kecantikan nur wajahMU
pada keluasan ampunanMU

Ya Allah…
Aku telah benamkan diri dalam kefanaan
sedang Engkaulah yang meneguhkan niatku dengan syariatMU
sedang Engkaulah yang menanamkan keyakinanku dengan hakikatMU
sedang Engkaulah yang menyampaikan tujuanku dengan ma’rifatMU

Ya Allah…
Kau telah penuhi hatiku dengan cintaMU
Kau telah basahi lisanku dengan dzikirMU
Kau telah tunjukkan sinar langkahku dengan tarekatMU

Duhai…
Bila saatnya tiba
Sang kekasih hanya dapat merindukan perjumpaan

Duhai…
Dimanakah tempat bila KAU tidak berada disisiku ?
Dimanakah langkah bila KAU tidak dalam pijakanku ?

Allah… Allah… Allah
Bila hatiku terlalu gelap dengan kema’siatan
Dalam kejaran bisikan syetan
Kumohon kau bukakan hijabMU
Celupkan diriku dalam lautan pintu taubatMU

Allah… Allah… Allah
Engkaulah yang Maha Hidup
Engkaulah yang Maha Abadi
Hidupkanlah hatiku yang mati
Suburkan padanya dengan mahabbahMU
Dalam keabadian cintaMU

Rabiah Al-’Adawiyah

July 8th, 2005 by karkoonzaid

Pada suatu hari seorang lelaki datang kepada Rabiah al-Adawiyah al-Bashriyah dan bertanya, "Saya ini telah banyak melakukan dosa. Maksiat saya bertimbun meleblhl gunung-gunung.Andaikata saya bertobat, apakah Allah akan menerima tobat saya?" "Tidak," jawab Rabiah dengan suara sangar. Pada kali yang lain seorang lelaki datang pula kepadanya. Lelaki itu berkata, "Seandainya tiap butir pasir itu adalah dosa, maka seluas gurunlah tebaran dosa saya.

Maksiat apa saja telah saya lakukan, baik yang kecil maupun yang besar. T etapi sekarang saya sudah menjalani tobat. Apakah Tuhan menerima tobat saya?" "Pasti," jawab Rabiah dengan tegas. Lalu ia menjelaskan, "Kalau Tuhan tldak berkenan
menerlma tobat seorang hamba, apakah mungkin hamba itu tergerak menjalani tobat? Untuk berhenti darl dosa, jangan simpan kata "akan atau "andaikata" sebab hal itu akan merusak ketulusan niatmu."

Memang ucapan sufi perempuan dari kota Bashrah itu seringkali menyakitkan telinga bagi mereka yang tidak memahami jalan pikirannya. Ia bahkan pernah mengatakan, "Apa gunanya meminta ampun kepada Tuhan kalau tidak sungguh-sungguh dan tidak keluar dari hati nurani?" Barangkali lantaran ia telah mengalami kepahitan hidup sejak awal kehadirannya di dunia ini. Sebagai anak keempat. Itu sebabnya ia diberi nama Rabiah. Bayi itu dilahirkan ketika orang tuanya hidup sangat sengsara meskipun waktu itu kota Bashrah bergelimang dengan kekayaan dan kemewahan. Tidak seorang pun yang berada disamping ibunya, apalagi menolongnya, karena ayahnya, Ismail, tengah berusaha meminta bantuan kepada para tetangganya.

Namun, karena saat itu sudah jauh malam, tidak seorang pundari mereka yang terjaga. Dengan lunglai Ismaill pulang tanpa hasil, padahal ia hanya ingin meminjam lampu atau minyak tanah untuk menerangi istrinya yang akan melahirkan . Dengan perasaan putus asa Ismail masuk ke dalam biliknya. Tiba-tiba matanya terbelak gembira menyaksikan apa yang terjadi di bilik itu.

Seberkas cahaya memancar dari bayi yang baru saja dilahirkan tanpa bantuan. siapa-siapa . "Ya Allah," seru Ismail, "anakku, Rabiah, telah datang membawa sinar yang akan menerangi alam di sekitarnya." Lalu Ismail menggumam, "Amin." Tetapi berkas cahaya yang membungkus bayi kecil itu tidak membuat keluarganya terlepas dari belitan kemiskinan. Ismail tetap tldak punya apa-apa Kecuali tiga kerat roti untuk istrinya yang masih lemah itu. Ia lantas bersujud dalam salat tahajud yang panjang, menyerahkan nasib dlrinya dan seluruh keluarganya kepada Yang Menciptakan kehidupan.

Sekonyong-konyong ia seolah berada dalam lautan mimpi manakala gumpalan cahaya yang lebih benderang muncul di depannya, dan setelah itu Rasul hadir bagaikan masih segar-bugar. Kepada Ismail, Rasulullah bersabda, "Jangan bersedih, orang salih. Anakmu kelak akan dicari syafaatnya oleh orang-orang mulia. Pergilah kamu kepada penguasa kota Bashrah, dan katakan kepadanya bahwa pada malam Jumat yang lalu ia tidak melakukan salat sunnah seperti biasanya. Katakan, sebagai kifarat atas kelalaiannya itu, ia harus membayar satu dinar untuk satu rakaat yang ditinggalkannya.

Ketika Ismail mengerjakan seperti yang diperintahkan Rasulullah dalam mimpinya, Isa Zadan, penguasa kota Bashrah itu, terperanjat. Ia memang biasa mengerjakan salat sunnah 100 rakaat tiap malam, sedangkan saban malam Jumat ia selalu mengerjakan 400 rakaat. Oleh karena itu, kepada Ismall diserahkannya uang sebanyak 400 dinar sesuai dengan jumlah rakaat yang ditinggalkannya pada malam Jumat yang silam. Itulah sebagian dari tanda-tanda karamah Rabiah al-Adawiyah, seorang sufi perempuan dari kota Bashrah, yang di hatinya hanya tersedia cinta kepada Tuhan. Begitu agungnya cinta itu bertaut antara hamba dan penciptanya sampai ia tidak punya waktu untuk membenci atau mencintai, untuk berduka atau bersuka cita selain dengan Allah.

Tiap malam ia bermunajat kepada Tuhan dengan doanya, "Wahai, Tuhanku. Di langit bintang-gemintang makin redup, berjuta pasang mata telah terlelap, dan raja-raja sudah menutup pintu gerbang istananya. Begitu pula para pecinta telah menyendiri bersama kekasihnya. Tetapl, aku kini bersimpuh di hadapan-Mu, mengharapkan cinta-Mu karena telah kuserahkan cintaku hanya untuk-Mu."

Fariduddin al-Attar menceritakan dalam kitab Tazkiratul Auliya bahwa Rabiah pandai sekali meniup seruling. Untuk jangka waktu tertentu ia menopang hidupnya dengan bermain musik. Namun, kemudian ia memanfaatkan kepandaiannya untuk mengiringi para sufi yang sedang berzikir dalam upayanya untuk menekatkan diri kepada Tuhan. Selain itu ia mengunjungi masjid-masjid, dari pagi
sampai larut malam. Namun, lantaran ia merasa dengan cara itu Tuhan tidak makin menghampirinya, maka ditinggalkannya semua itu.

Ia tidak lagi meniup seruling, dan ia tidak lagi mendatangi masjid-masjid. Ia menghabiskan waktu dengan beribadah dan berzikir. Setelah selesai salat isa, ia terus berdiri mengerjakan salat malam. Pernah ia berkata kepada Tuhan, "Saksikanlah, seluruh umat manusia sudah tertidur lelap, tetapi Rabiah yang berlumur dosa masih berdiri di hadapan-Mu. Kumohon dengan sangat, tujukanlah pandangan-Mu kepada Rabiah agar ia tetap berada dalam keadaan jaga demi pengabdiannya yang tuntas kepada-Mu."

Jika fajar telah merekah dan serat-serat cahaya menebari cakrawala, Rabiah pun berdoa dengan khusyuk, "Ya, illahi. Malam telah berlalu, dan siang menjelang datang. Aduhai, seandainya malam tidak pernah berakhir, alangkah bahagianya hatiku sebab aku dapat selalu bermesra-mesra dengan-Mu. illahi, demi kemuliaan-Mu, walaupun Kautolak aku mengetuk pintu-Mu, aku akan senantiasa menanti di depan pintu karena cintaku telah terikat dengan-Mu."

Lantas, jika Rabiah membuka jendela kamarnya, dan alam lepas terbentang di depan matanya, ia pun segera berbisik, "Tuhanku. Ketika kudengar margasatwa berkicau dan burung-burung mengepakkan sayapnya, pada hakikatnya mereka sedang memuji-Mu. Pada waktu kudengar desauan angin dan gemericik air di pegunungan, bahkan manakala guntur menggelegar, semuanya kulihat sedang menjadi saksi atas keesaan-Mu.

Tentang masa depannya ia pemah ditanya oleh Sufiyan at-Thawri: "Apakah engkau akan menikah kelak?" Rabiah mengelak, "Pernikahan merupakan keharusan bagi mereka yang mempunyai pilihan. Padahal aku tidak mempunyai pilihan kecuali mengabdi kepada Allah." "Bagaimanakah jalannya sampai engkau mencapai martabat itu?" "Karena telah kuberikan seluruh hidupku," ujar Rabiah. "Mengapa bisa kaulakukan itu, sedangkan kami tidak?" Dengan tulus Rabiah menjawab, "Sebab aku tidak mampu menciptakan keserasian antara perkawinan dan cinta kepada Tuhan.

Regukan Cinta

July 8th, 2005 by karkoonzaid

Duhai Kekasih…
Jangan palingkan cintaMU padaku…
Sehingga aku terlunta-lunta dengan kecintaan dunia
Sehingga aku menjadi hina dengan kemanisan dunia

Aku adalah hambaMU yang lemah
Bila Engkau palingkan wajahMU, maka
kemana lagi aku harus menatap…
Sedang semua adalah fana

Duhai Kekasih…
Jangan Engkau azab diri ini dengan murkaMU
Sehingga aku menjadi nista dengan kecintaan selain padaMU
Sehingga aku telah menjadi hilang dalam arahanMU
Dari ketenangan perjumpaan denganMU
Dari kedekatan dengan dzikir kepadaMU

Duhai Kekasih…
Jangan biarkan aku hilang dari sisiMU
Keregukan cintaMU adalah tujuan akhir ku

Biografi Singkat Thareqat Qodariah Wa Naqsabandiyyah

July 8th, 2005 by karkoonzaid

Dua pengikut aliran sufi terbesar di dunia, yaitu Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah, kedua-
duanya terdapat di Indonesia. Tidak diketahui secara pasti bagaimana paham Qadiriyyah datang
ke Indonesia. Syed Naguib al-Attas memberitahukan bahwa Hamza Fansuri (Sumatera Utara) adalah pengikut Thariqat Qadiriyyah, sebagai seorang yang bereputasi, dia berhasil mengumpulkan pengikutnya.   

Belakangan diketahui, bahwa rujukan pengikut Qadiriyyah adalah Syaikh Abd al-Qdir al-Jayln,  sebagaimana ditemukan dalam puisi Fansuri, yang berdomisili di Aceh pada pertengahan abad 16.
Sebagai tambahan, bahwa dalam prosa Fansuri tertulis Syaikh Sufi terkenal seperti Ab Yazid al-
Bustam, Junayd al-Baghddi, Manshr al-Hallaj, Jalaluddin Rumi, Ibn Arabi, Jami, Attar, dan  beberepa syaikh lainnya.

Diungkapkan bahwa orang pertama yang memperkenalkan Qadiriyyah adalah Syikh Yusuf Makassar (1626-1699). Guru Qadiriyyahnya, Muhammad Jailani ibn Hasan ibn Muhammad al-Hamid, seorang imigran dari Gujarat bersama pamannya Nur al-Dn al-Raniri. Di Yaman, Syaikh Yusuf belajar ajaran Naqshabandiyyah dari Syaik terkenal dari Arab, Muhammad Abd al-Baqi. Sufi lainnya dari Aceh, Abd al-Rauf al-Sinkili, yang belajar di Madinah pada pertengahan abad 17 di bawah bimbingan Syaikh Ahmad al-Qushashi dan Ibrahim al-Qurani, dimana mereka merupakan Guru Paham Qadariyyah.

Lombard menginformasikan kepada kita, bahwa asal muasal Thariqat Naqsabandiyyah di Indonesia, ditunjukkan dengan pernyataan L.W.C van den Berg, bahwa Dia datang dan aktivitas Thariqat Naqsabandiyyah telah ada di Aceh dan Bogor, dimana dia menyaksikan dzikir Naqsabandiyyah sebagai aktivitas utama. Kemudian Dia menggambarkan kedatangan Thariqat Naqsabandiyyah di wilayah Medan, tepatnya di Langkat.

Penulis berikutnya menggambarkan bahwa Syaikh Abd al-Wahhab Rokan al-Khalidi al-Naqshabandi
memperkenalkan Naqsabandiyyah ke Riau. Setelah menghabiskan waktu selama 2 tahun di Malaysia dalam rangka berdagang, beliau pergi ke Makkah dan belajar di bawah bimbingan Syaik Sulaiman al-Zuhdi. Pada tahun 1845, beliau mendapatkan sertifikat dan kembali ke Riau kemudian mendirikan perkampungan Thariqat Naqsabandiyyah dengan nama Bab al-Salm.

Pada abad ke-19, Thariqat Naqshabandiyyah mempunyai cabang di Makkah, dimana menurut Trimingham, salah satu Syaikh Naqshabandiyyah dari Minangkabau (Sumatera Barat) juga aktif pada tahun 1845. Dari Makkah, Thariqat Naqshabandiyyah tersebar luas ke berbagai negara
termasuk ke Indonesia, melalui jamaah haji setiap tahun. Kedua Thariqat tersebut muncul pada abad ke-7 dan 8 Hijriyyah (abad ke-12/13 Masehi).

Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai peranan penting dalam kehidupan muslim Indonesia. Dan yang sangat penting adalah membantu dalam membentuk karakter masyarakat
Indonesia. Bukan karena Syaikh Ahmad Khatib Sambas sebagai pendiri adalah orang lokal (Indonesia) tetapi para pengikut kedua Thariqat ini ikut berjuang dengan gigih terhadap imperialisme Belanda dan terus berjuang melalui gerakan sosial-keagamaan dan institusi pendidikan setelah kemerdekaan.

Survey tentang sejarah Thariqat Qadiriyyah dan Naqshabandiyyah mempunyai hubungan yang erat
dengan pembangunan masyarakat Indonesia. Thariqat ini merupakan salah satu keunikan masyarakat muslim Indonesia, bukan karena alasan yang dijelaskan di atas, tetapi praktek-praktek Thariqat ini menghiasi kepercayaan dan budaya masyarakat Indonesia. Selanjutnya, Syikh Sambas tidak mengajarkan kedua Thariqat ini secara terpisah, tetapi dalam satu kemasan (penggabungan kedua Thariqat).

Hakikat Cinta

May 31st, 2005 by karkoonzaid

Bila engkau telah rasakan kefanaan dunia
Maka terbuka hijabmu dengan kekasih abadi
Selami diri dalam kecintaan
Tidak akan pernah ada kenistaan
bagi seorang kekasih yang telah merinduiNya
Diantara tatapan mu ada KekuasaanNya
Diantara kehendak mu ada QodarNya
Diantara kelemahan mu ada KekuatanNya
Maka manakah yang kau pilih
Dunia dengan kemanisan yang semu dan
menipu
Ataukah akhirat dengan pertemuan bersama
Kekasihmu
Bila engkau menghendaki dunia
maka akhirat menjadi musuhmu
Bila engkau menjumpai dunia
palingkan wajahmu dari kecantikannya
hingga dirimu tidak akan pernah ditaklukkan
olehnya
Bila engkau telah menyingkapi hijab hatimu
maka kau akan rasakan Keluasan Ma’rifat
bersamaNYA
palingkan wajahmu dan tatapanmu
dalam kelalaian
keindahan dunia
maka engkau akan menjumpai dirimu
pada tatapan nur WajahNYA