Pendahuluan Tasawuf -3-
July 20th, 2005 by karkoonzaidKeistimewaan Tasawuf
Tasawuf adalah ilmu yang paling mulia karena ia terkait erat dengan pengenalan Allah (ma’rifatullâh) dan kecintaan pada-Nya yang secara mutlak menempati tingkatan tertinggi dalam agama.
Posisi Tasawuf Diantara Ilmu-ilmu Yang Ada
Ilmu ini menjadi sumber prasyarat bagi ilmu-ilmu yang lain. Karena ilmu dan amal tidak akan ada nilainya kecuali dengan tujuan mencari ridha Allah Swt. Posisi tasawuf di antara ilmu-ilmu yang lain persis seperti posisi ruh dengan jasad.
Penancap Tonggak Tasawuf
Allah-lah yang pertama kali menancapkan tonggak ilmu ini dan mewahyukannya pada rasul-Nya juga para nabi sebelumnya. Diyakini demikian, karena tasawuf merupakan ruh semangat syariat dan agama-agama langit. Perlu diketahui bahwa para nabi itu mempunyai tiga kata yang biasa dipakai, yang bagi sebagian orang yang kurang mendalam pengetahuannya menjadi rancu dan bias. Berikut kami akan jelaskan dengan jelas mengenai penjelasan tiga kata itu sehingga Anda tidak terjerumus seperti orang-orang itu. Tiga kata itu adalah syariat, tarikat, dan hakikat.
Syariat adalah kumpulan hukum-hukum Allah Swt. yang diturunkan pada Nabi Muhammad Saw. yang berhasil dipahami oleh para ulama dengan menggalinya dari Al-Quran dan As-Sunah baik secara teks maupun hasil penggalian hukum. Yang saya maksudkan dengan sekumpulan hukum di sini adalah kumpulan hukum yang dijelaskan dalam ilmu tauhid, ilmu fiqih, dan ilmu tasawuf.
Tarikat adalah pengamalan syariat, melaksanakan hal - hal yang ditetapkan dalam syariat, dan menjauhi sikap menganggap remeh sesuatu yang seharusnya tidak dianggap remeh. Anda juga boleh berpendapat bahwa tarikat adalah menjauhi hal-hal yang dilarang baik zahir maupun batin dan mematuhi segala yang diperintahkan Allah Swt. sesuai kemampuan. Atau Anda bisa saja mendefinisikannya sebagai sikap menjauhi hal-hal yang diharamkan, menjauhi hal-hal yang makruh, berhati-hati terhadap kelebihan hal-hal yang mubah, dan melakukan hal-hal yang sunah di bawah pengawasan seorang guru yang telah mencapai puncak kemakrifatan.”
Hakikat sendiri terbagi ke dalam tiga tingkatan. Tingkatan pertama, halusnya tabir antara yang bersangkutan dengan apa yang diimaninya mulai dan sifat Allah, keagungan-Nya, keindahan-Nya, kedekatan-Nya, “persetubuhan” dengan-Nya, hakikat kenabian, kesempurnaan para nabi yang mendapatkan risalah kenabian itu terutama Nabi Muhammad Saw., juga semua yang telah diberitakan Nabi Saw. tentang kenikmatan dan siksa kubur, kegentingan kiamat, segala tentang neraka dan segala bentuk kenikmatan surga, dan lain sebagainya.
Seseorang yang berada pada tingkatan ini, semua yang diimaninya itu tampak nyata seakan ada di hadapan mata. Setelah itu, hal ini diikuti dengan beberapa kondisi yang tiba-tiba muncul di depan matanya, seperti sikap zuhud dunia dan segala keglamorannya, lupa dunia, mabuk akan akhirat, sikap kagum pada akhirat, begitu rindu dan cinta yang membara pada akhirat, dan masih banyak lagi yang nanti akan dijelaskan secara teperinci pada bab khusus mengenai masalah ini. Bersamaan dengan itu, akan tersingkap pula di hadapannya segala yang dikehendaki Allah Swt. seperti misteri tentang alam atas, alam bawah, kejadian-kejadian yang telah lampau, dan kejadian-kejadian yang akan terjadi di masa mendatang.
Salah satu bentuk aplikasi bagian hakikat yang ini adalah hadis yang bersumber dan Hâritsah bin Mâlik ketika Nabi Muhammad Saw. bertanya padanya, “Bagaimana keadaanmu pagi ini, Hâritsah?” Dia menjawab, “Pagi ini menjadi seorang yang beriman dengan sebenar-benarnya.” Nabi lalu berkata, “Setiap ucapan pasti mempunyai hakikat. Lalu gerangan apakah hakikat keimananmu itu?” Dalam suatu riwayat disebutkan bahwa Nabi lalu berkata pada Hâritsah, “Ketahui apa yang telah kamu katakan atau perhatikan apa yang telah kamu katakan?” Mendengar sabda Nabi itu, Hâritsah lalu berkata, “Jiwa saya telah berpaling dari dunia. Emas dan batu dunia sama saja bagi saya. Karenanya, ketika malam saya tidak tidur dan ketika siang saya biarkan diri ini kehausan. Pada saat itulah saya sekan-akan telah melihat Arsy Allah ada di depan mata atau seolah-olah saya sedang melihat penghuni surga sedang saling mengunjungi satu sama lain. Saya juga seolah-olah sedang mendengar jeritan para penghuni neraka.” Lalu Nabi lebih lanjut berkata pada Hâritsah, “Jadi kamu memang sudah tahu apa yang kamu katakan. Jika begitu, jangan pernah berpaling dan apa yang sudah kamu ketahui.” Pada suatu riwayat, Nabi Muhammad Saw. bersabda tentang Hâritsah, “Siapa saja yang senang melihat orang yang mendapat cahayaAllah Swt., maka lihatlah Hâritsah bin Mâlik,” (HR At-Thabarânî, Al-Bazzâr, dan perawi lainnya).
Inilah tingkatan hakikat yang tertinggi. Dari tingkatan ini muncullah dua tingkatan yang lain dan menjadi dasar yang melahirkan dua tingkatan lainnya. Tingkatan yang kedua adalah mengosongkan jiwa dan tatabudi yang hina dan menghiasinya dengan sifat-sifat yang terpuji serta akhlak-akhlak mulia yang telah begitu menancap dan tertanam dengan kuat di dalam jiwa.
Tingkatan ketiga, mudah melakukan amal-amal saleh dan ringan melakukan perilaku-perilaku yang baik hingga tidak ada lagi rasa merasa terpaksa dan merasa kesulitan untuk melakukan itu semua. Bahkan ketika ia berkeinginan meninggalkan amal-amal baik itu, jiwanya memberontak dan tidak mau memenuhinya. Dadanya pun menjadi sangat terbuka untuk menerima Islam sepenuhnya. Jiwanya begitu tenang untuk jauh dan segala sesuatu yang diharamkan Allah Swt. dan melaksanakan segala yang diperintahkan-Nya. Dengan begitu, upayanya untuk merendahkan diri di hadapan Allah telah diakui kebenarannya sampai seolah-olah ia adalah malaikat yang berwujud manusia.
Jika tiga tingkatan ini dapat Anda pahami dengan baik, maka Anda akan tahu bahwa kebanyakan definisi yang disebutkan mengenai hakikat adalah penjelasan mengenai salah satu bagian atau satu jenisnya saja. Di samping bahwa hakikat merupakan buah hasil dan tarikat.
Bagi seorang yang meniti jalan menuju akhirat mutlak diperlukan menggabungkan tiga hal ini dan tidak melewatkan satu pun di antaranya. ini disebahkan karena hakikat tanpa syariat adalah suatu kebatilan dan syariat tanpa hakikat adalah sesuatu yang sia-sia belaka. Imam Mâlik r.a. berkata, “Orang yang melaksanakan syariat tanpa menjalankan hakikat, maka ia telah berlaku fasik. Orang yang berhakikat tanpa bersyariat, maka ia telah zindik. Sedang orang yang menggabungkan keduanya, maka ia telah menemukan kebenaran.”
Syariat itu seperti perahu karena ia menjadi sarana yang bisa mengantarkan seseorang sampai pada tujuan dan selamat dan kehancuran. Tarikat itu seperti lautan yang di dalamnya terdapat mutiara karena ia menjadi tempat tujuan. Hakikat itu seperti mutiara yang besar karena mutiara hanya ditemukan di lautan. Lautan itu pun hanya bisa digapai dengan bantuan perahu. Orang yang telah melihat hakikat segala sesuatu dengan bantuan Allah Swt., maka ia akan menemukan bahwa syariat dan hakikat saling berkaitan, seperti air dan kayu, juga ruh dengan jasad. Syariat adalah pohon, tarikat adalah dahan pohon itu, dan hakikat adalah buahnya.
Nama Disiplin Hidup Ini
Ilmu ini bernama tasawuf. Kata tasawuf berasal dan kata al-shâfa’ (bening). Seorang sufi adalah orang yang jemih hatinya dan segala kotoran dan dipenuhi dengan pelajaran-pelajaran. Baginya, sama saja antara emas dan lumpur. Sebagain orang yang telah mencapai tahap makrifat bersenandung dalam bait syair berikut ini:
Wahai Zat yang memanggilku, pada kenyataannya Engkau-lah yang aku panggil
Wahai Zat yang mengenaliku, jangan salahkan aku karena engaku telah aku kenali
Pemuda adalah orang yang telah memenuhi janjinya pada zaman azali dan bersih hati
Oleh karena itulah, seorang yang bersih hatinya disebut sebagai sufi
Prinsip dasar tasawuf ada lima. Pertama, takwa kepada Allah Swt, baik di saat sembunyi maupun di kala terbuka di depan umum. ini bisa terwujud dengan kewaraan dan keistiqamahan. Kedua, mengikuti sunah Nabi baik dalam perkataan dan perbuatan. ini bisa terwujud dengan menjaga dan selalu berusaha memperbaiki akhlak diri. Ketiga, berpaling dari makhluk baik ketika disukai maupun ketika tidak disukai, ini bisa terwujud dengan cara bersabar dan bertawakal. Keempat, ridha dengan apa yang telah diberikan Allah Swt. baik banyak maupun sedikit. ini bisa terwujud dengan sikap qanaah dan menyerahkan sepenuhnya segala sesuatu pada Allah Swt. Kelima, kembali kepada Allah Swt. dalam keadaan lapang maupun keadaan sempit. Ini bisa terwujud dengan bersikap syukur pada saat lapang dan berlindung pada-Nya pada saat dalam keadaan sempit.
Dasar Pijakan Tasawuf
Dasar pijakan tasawuf berasal dan Al-Quran, As-Sunah, dan perkataan-perkataan yang disampaikan oleh manusia-manusia terpilih.
Hukum Mempelajari Tasawuf
Hukum mempelajari tasawuf adalah mutlak wajib. Karena tidak ada seorang pun yang terbebas dan aib atau penyakit hati kecuali para nabi. Sebagian orang yang telah menggapai tahap makrifat mengatakan, “Orang yang tidak mengetahui sedikit pun ilmu ini (tasawuf), maka aku khawatir ia akan mati dalam keadaan sû‘u al-khâtimah. Kalaupun ia tidak mengetahui banyak tentang ilmu ini, paling tidak ia membenarkan ilmu ini dan mengakui keberadaan orang-orang yang menekuninya.”
Permasalahan Yang Dikaji Ilmu Tasawuf
Beberapa permasalahan yang menjadi pokok kajian ilmu ini adalah beberapa permasalahan yang membahas tentang sifat-sifat hati dan segala yang terkait dengan itu. Seperti penjelasan beberapa kalimat yang banyak dikaji di tengahtengah komunitas sufi semisal zuhud, wara, cinta (mahabbah), fana, dan baqa.